Tampilkan postingan dengan label katakami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katakami. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 09, 2009

Megawati & Rakyat Indonesia Bertanya Pada Obama & DUNIA, Mengapa Hak Politik Rakyat & Demokrasi Kami Ditindas Mati ?


TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM

Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM dan di WWW.KATAKAMIINDONESIA.VOX.COM


Jakarta 9/7/2009 (KATAKAMI) Panggung perpolitikan Pemilihan Umum PILPRES 2009 telah usai. Hasilnya seperti yang sudah ditebak sebelumnya bahwa patut dapat diduga pihak tertentu memang masih sangat ngotot untuk bisa tetap melanggengkan kekuasaannya seperti zaman Soeharto. Kekuasaan memang ibarat kenikmatan yang paling nikmat. Kekuasaan sanggup membutakan mata hati, pikiran dan moralitas manusia.

Apa yang mau dibanggakan oleh TNI, POLRI, Badan Intelijen Negara (BIN), khususnya Kantor Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukkam) setelah patut dapat diduga mereka sangat sukses dan berhasil memenangkan dan mengamankan ambisi politik sang pimpinan yang ingin agar kekuasaannya beranak-cucu di negara demokrasi bernama Indonesia ?

http://nurulloh.kompasiana.com/files/2009/06/megawati-hs-agus-susanto.jpg

Apa yang mau dibanggakan oleh oknum-oknum militer dan POLISI yang bermasalah dengan hukum karena patut dapat diduga demi mengamankan diri mereka agar tidak tersentuh oleh jerat hukum maka dengan penuh pengabdian dan totalitas telah memudahkan kemenangan dalam PILPRES 2009 ?

Termasuk didalamnya, patut dapat diduga oknum POLRI Gories Mere telah dengan "idiot" eh "sok genius" menciptakan kemenangan ini yang patut dapat diduga dengan kejahatan Informasi dan Teknologi (IT) yang sangat kotor mengerikan.

Capres Megawati Soekarnoputri sangat prihatin atas adanya sikap tidak netral yang telah ditunjukkan dan dilakukan secara "berjamaah" oleh instansi-instansi penting di Indonesia.


"Apakah mereka pikir, ini adalah kesuksesan ? Dari sisi mana mereka menilai maka kemenangan ini disebut sebuah kesuksesan dari aparat-aparat yang tidak netral itu ? Apakah di hati mereka itu, sudah tidak ada rasa hormat kepada nilai-nilai demokrasi dan hak-hak politik rakyat ? Saya ingin tahu, apakah mereka yakin bahwa rakyat Indonesia ini bisa dibodoh-bodohi terus menerus ? Kasihan mereka" kata Megawati Soekarnoputri secara EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM yang sepanjang hari Rabu (8/7/2009) berada di kediaman Megawati -- baik saat berada di kediamanan jalan Kebagusan Jakarta Selatan atau di Jalan Teuku Umar Menteng Jakarta Pusat.

Jangan dipikir bahwa laporan-laporan dari daerah tidak masuk ke pihak Megawati dan Prabowo Subianto. Bayangkan, patut dapat diduga POLRI menjadi ujung tombak segala kecurangan di berbagai daerah.

Dan Megawati sudah memprediksi sejak awal bahwa keikut-sertaan dirinya sebagai CAPRES akan dijegal dan digagalkan dengan menggunakan KEJAHATAN TEKNOLOGI (IT).


"Kejahatan IT adalah ancaman paling serius dalam Pilpres 2009 ini. Saya tidak mengerti, mengapa seperti ini menegakkan demokrasi ? Tahun 2004, saya telah berhasil menggelar pesta demokrasi yang jujur, langsung, bebas, rahasia dan bermartabat. Presiden Jimmy Carter datang ke Indonesia untuk memantau Pemilu dan beliau juga bertemu langsung dengan saya. Presiden Jimmy Carter menyampaikan pemghargaan bahwa pemerintahan saya telah berhasil menggelar Pemilu pertama yang bersifat langsung. Pemilu apa ini yang sekarang ? Harusnya bisa lebih baik dari Pemilu yang dilakukan oleh pemerintahan saya tahun 2004. Ini justru mundur jauh ke belakang. Jauh lebih buruk dari Pemilu sepanjang Orde Baru yang sudah dapat kita tebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang," lanjut Megawati.

Ketidak-netralan TNI, POLRI, BIN dan terutama Jajaran Kementerian Kantor Polhukkam sangat menyedihkan dan dikecam keras oleh Megawati.


"Saya ingatkan ya, rakyat itu tidak bodoh. Rakyat itu menilai. Sekarang ini pilihannya ada 2, mau melawan semua kecurangan yang sangat kotor ini dengan cara-cara kekerasan atau dengan jalur hukum ? Bukan sifat saya kalau menggunakan cara-cara kekerasan. Saya anti kekerasan. Tapi apakah mereka yang menjadi aparat itu siap kalau rakyat sudah tidak tahan dan memberontak terhadap semua kecurangan ini ? Apakah mereka menembaki rakyatnya sendiri ? Saya akan katakan, ayo coba tembak rakyatmu kalau berani ! Jangan sakiti rakyat Indonesia. Rakyat ini sudah lelah. Ini Pemilu yang penuh kecurangan" tambah Megawati yang berbicara dengan tenang dan sangat berkharisma.

Megawati memang benar.

Tidak seperti ini caranya jika ingin meraih kemenangan -- termasuk jika ingin memperpanjang dan melanggengkan kekuasaan --. Hak politik rakyat mutlak untuk dihormati.

Saat penghitungan suara cepat sudah sangat tidak berimbang sejak awal penghitungan. Saat capres Megawati dan Muhammad Jusuf Kalla memulai penghitungan dengan hitungan awal 0 (nol) %, patut dapat diduga angka awal penghitungan dari pihak calon lainnya sudah langsung 50 %.


Bahkan, Barack Hussein Obama sendiri sebagai kandidat CAPRES AS tidak akan pernah bisa memenangkan "PRESIDENTIAL ELECTION 2008" jika lawan politiknya mencuri start dan mencuri angka kemenangan sangat besar sekitar 50 % dari totalitas perolehan angka kemenangannya.

Dunia internasional dan khususnya AMERIKA SERIKAT kini berada di persimpangan di jalan.

Seiring dengan ucapan SELAMAT yang akan mereka sampaikan nanti, rakyat Indonesia akan menatap satu persatu pemimpin dunia itu dengan tatapan dan penilaian yang sangat menyakitkan hati.

Salahkah rakyat Indonesia jika mendambakan dan mengharapkan berjalannya atau tegaknya sebuah proses demokrasi secara benar ?

Salahkah rakyat Indonesia jika sudah sangat lelah dengan semua kekuasaan yang kotor dan sangat tidak berperikemanusiaan membunuh hak-hak politik rakyat ?

Salahkah jika saat ini rakyat Indonesia meratap dan menangisi ketidak-mampuan mereka melawan arogansi kekuasaan yang patut dapat diduga telah melakukan KEJAHATAN KEMANUSIAAN yang paling kotor di abad kekinian -- 11 tahun setelah reformasi Indonesia ?


Terlalu kotor caranya jika kecurangan ini dilakukan secara BERJAMAAH oleh semua aparat pemerintah, terutama patut dapat diduga dilakukan TNI, POLRI dan BIN -- dibawah koordinasi Kantor Kementerian POLHUKKAM --.

Saat Iran rusuh pasca pelaksanaan PILPRES mereka, AMERIKA SERIKAT seakan cakar-cakaran untuk mendesak agar Presiden Obama cepat bereaksi menentang tercederainya nilai-nilai demokrasi disana. Tapi kini, AMERIKA SERIKAT dinantikan reaksinya oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan ?

Politik kotor seperti inilah yang akan didukung oleh semua politisi muda sangat berkharisma sekelas BARACK HUSSEIN OBAMA ?

Sebelum Barack Hussein Obama menjawab "YA", maka sudilah kiranya ia membayangkan bagaimana jika ia melaju dalam pertarungan PILPRES 2008 dulu ... semua perangkat pemerintah di AS melakukan kecurangan yang sudah sangat kotor dan parah ?

Sebutlah misalnya, Dinas Intelijen CIA, Biro Investigasi Federal (FBI), Militer AS dan semua perangkat AS. Bagaimana perasaan dan kemarahan Obama jika langkah politiknya dijegal dengan cara-cara yang sudah sangat tidak manusiawi dengan kejahatan teknologi dan semua praktek kotor yang menistakan nilai demokrasi AS ?


Sebelum Barack Hussein Obama menjawab "YA" untuk mendukung hasil Pemilu yang patut dapat diduga sangat kotor dengan kecurangan BERJAMAAH seperti ini, ada baiknya kalau Obama mengenang semua sifat yang sangat indah, luhur dan mulia dari ibu yang melahirkan dirinya yaitu Almarhumah Stanley Ann Dunham.

Perempuan yang sangat cerdas dan kuat dalam membela kepentingan kaumnya.

Stanley Ann Dunham mengabdikan dirinya secara total untuk membantu kaum miskin dan papa, kalangan tak berdaya dan sebagian besar diantaranya adalah kaum perempuan. Termasuk INDONESIA, adalah sebuah negara yang menjadi tempat terbanyak bagi Stanley Ann Dunham untuk mengabdikan diri dan hidupnya demi kebaikan bagi sesamanya manusia.

Stanley Ann Dunham tidak akan pernah membiarkan satu detikpun dalam hidupnya dulu untuk membiarkan rakyat yang lemah tak berdaya itu semakin remuk digilas oleh zaman yang ganas. Ia habiskan hidupnya untuk mengunjungi banyak negara tetapi bukan untuk menikmati glamournya dunia. Melainkan untuk mengunjungi rakyat yang miskin dan papa.

Ia datang dengan ketulusan dan penghormatan yang penuh kepada nilai-nilai kemanusiaan. Ia datang dengan keiklasan yang sangat tinggi tingkat kemuliaannya untuk menunjukkan kepada kalangan perempuan dimanapun juga bahwa solidaritas sesama jender akan tetap terwujud tanpa mengenal batas ruang dan waktu.


Jika dengan segenap hati dan cinta yang ada di hatinya, Barack Hussein Obama mau mengenang sisi yang sangat mengagumkan ini dari figur ibu yang melahirkannya maka tak akan pernah Obama mau mendukung semua kejahatan kemanusiaan yang membunuh nilai-nilai kebenaran, hukum, HAM dan kemanusiaan di muka bumi ini.

Betapa sakit dan hancur rasanya sebentuk hati yang dimiliki oleh begitu banyak rakyat INDONESIA yang sudah dirampas dan ditindas hak-hak politiknya demi hawa nafsu kekuasaan pihak tertentu.

Seakan tak ada tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan bahwa sebuah kebiadaban sudah semakin percaya diri untuk melahap habis nilai demokrasi dan kebenaran di negeri yang begitu elok bernama INDONESIA.

Tanah airku INDONESIA, meratap, menangis dan terhempas kembali ke titik terendah dalam berdemokrasi.

(MS)

Senin, Juni 22, 2009

Tulisan Presiden Obama Pada Perayaan “Father’s Day”, : WE NEED FATHERS TO STEP UP !





By : BARACK HUSSEIN OBAMA

Dimuat juga di http://www.katakamikatakami.vox.com , http://www.blogkatakaminews.blogspot.com dan http://www.katakaminews.wordpress.com


As the father of two young girls who have shown such poise, humor, and patience in the unconventional life into which they have been thrust, I mark this Father’s Day—our first in the White House—with a deep sense of gratitude. One of the greatest benefits of being President is that I now live right above the office. I see my girls off to school nearly every morning and have dinner with them nearly every night. It is a welcome change after so many years out on the campaign trail and commuting between Chicago and Capitol Hill.

But I observe this Father’s Day not just as a father grateful to be present in my daughters’ lives but also as a son who grew up without a father in my own life. My father left my family when I was 2 years old, and I knew him mainly from the letters he wrote and the stories my family told. And while I was lucky to have two wonderful grandparents who poured everything they had into helping my mother raise my sister and me, I still felt the weight of his absence throughout my childhood.

As an adult, working as a community organizer and later as a legislator, I would often walk through the streets of Chicago’s South Side and see boys marked by that same absence—boys without supervision or direction or anyone to help them as they struggled to grow into men. I identified with their frustration and disengagement—with their sense of having been let down.

In many ways, I came to understand the importance of fatherhood through its absence—both in my life and in the lives of others. I came to understand that the hole a man leaves when he abandons his responsibility to his children is one that no government can fill. We can do everything possible to provide good jobs and good schools and safe streets for our kids, but it will never be enough to fully make up the difference.

That is why we need fathers to step up, to realize that their job does not end at conception; that what makes you a man is not the ability to have a child but the courage to raise one.

As fathers, we need to be involved in our children’s lives not just when it’s convenient or easy, and not just when they’re doing well—but when it’s difficult and thankless, and they’re struggling. That is when they need us most.

And it’s not enough to just be physically present. Too often, especially during tough economic times like these, we are emotionally absent: distracted, consumed by what’s happening in our own lives, worried about keeping our jobs and paying our bills, unsure if we’ll be able to give our kids the same opportunities we had.

Our children can tell. They know when we’re not fully there. And that disengagement sends a clear message—whether we mean it or not—about where among our priorities they fall.

So we need to step out of our own heads and tune in. We need to turn off the television and start talking with our kids, and listening to them, and understanding what’s going on in their lives.

We need to set limits and expectations. We need to replace that video game with a book and make sure that homework gets done. We need to say to our daughters, Don’t ever let images on TV tell you what you are worth, because I expect you to dream without limit and reach for your goals. We need to tell our sons, Those songs on the radio may glorify violence, but in our house, we find glory in achievement, self-respect, and hard work.

We need to realize that we are our children’s first and best teachers. When we are selfish or inconsiderate, when we mistreat our wives or girlfriends, when we cut corners or fail to control our tempers, our children learn from that—and it’s no surprise when we see those behaviors in our schools or on our streets.

But it also works the other way around. When we work hard, treat others with respect, spend within our means, and contribute to our communities, those are the lessons our children learn. And that is what so many fathers are doing every day—coaching soccer and Little League, going to those school assemblies and parent-teacher conferences, scrimping and saving and working that extra shift so their kids can go to college. They are fulfilling their most fundamental duty as fathers: to show their children, by example, the kind of people they want them to become.

It is rarely easy. There are plenty of days of struggle and heartache when, despite our best efforts, we fail to live up to our responsibilities. I know I have been an imperfect father. I know I have made mistakes. I have lost count of all the times, over the years, when the demands of work have taken me from the duties of fatherhood. There were many days out on the campaign trail when I felt like my family was a million miles away, and I knew I was missing moments of my daughters’ lives that I’d never get back. It is a loss I will never fully accept.

But on this Father’s Day, I think back to the day I drove Michelle and a newborn Malia home from the hospital nearly 11 years ago—crawling along, miles under the speed limit, feeling the weight of my daughter’s future resting in my hands. I think about the pledge I made to her that day: that I would give her what I never had—that if I could be anything in life, I would be a good father. I knew that day that my own life wouldn’t count for much unless she had every opportunity in hers. And I knew I had an obligation, as we all do, to help create those opportunities and leave a better world for her and all our children.

On this Father’s Day, I am recommitting myself to that work, to those duties that all parents share: to build a foundation for our children’s dreams, to give them the love and support they need to fulfill them, and to stick with them the whole way through, no matter what doubts we may feel or difficulties we may face. That is my prayer for all of us on this Father’s Day, and that is my hope for this nation in the months and years ahead.

http://blackcelebritykids.files.wordpress.com/2008/05/may4thindianaobama.jpg


LAMPIRAN (SURAT PRESIDEN OBAMA KEPADA KEDUA PUTERINYA, MALIA & SASHA) :



Dear Malia and Sasha,

I know that you’ve both had a lot of fun these last two years on the campaign trail, going to picnics and parades and state fairs, eating all sorts of junk food your mother and I probably shouldn’t have let you have. But I also know that it hasn’t always been easy for you and Mom, and that as excited as you both are about that new puppy, it doesn’t make up for all the time we’ve been apart. I know how much I’ve missed these past two years, and today I want to tell you a little more about why I decided to take our family on this journey.

When I was a young man, I thought life was all about me—about how I’d make my way in the world, become successful, and get the things I want. But then the two of you came into my world with all your curiosity and mischief and those smiles that never fail to fill my heart and light up my day. And suddenly, all my big plans for myself didn’t seem so important anymore. I soon found that the greatest joy in my life was the joy I saw in yours. And I realized that my own life wouldn’t count for much unless I was able to ensure that you had every opportunity for happiness and fulfillment in yours. In the end, girls, that’s why I ran for President: because of what I want for you and for every child in this nation.

http://blindie.com/wp-content/uploads/2008/11/malia_sasha_obama-326x400.jpg

I want all our children to go to schools worthy of their potential—schools that challenge them, inspire them, and instill in them a sense of wonder about the world around them. I want them to have the chance to go to college—even if their parents aren’t rich. And I want them to get good jobs: jobs that pay well and give them benefits like health care, jobs that let them spend time with their own kids and retire with dignity.

I want us to push the boundaries of discovery so that you’ll live to see new technologies and inventions that improve our lives and make our planet cleaner and safer. And I want us to push our own human boundaries to reach beyond the divides of race and region, gender and religion that keep us from seeing the best in each other.

Sometimes we have to send our young men and women into war and other dangerous situations to protect our country—but when we do, I want to make sure that it is only for a very good reason, that we try our best to settle our differences with others peacefully, and that we do everything possible to keep our servicemen and women safe. And I want every child to understand that the blessings these brave Americans fight for are not free—that with the great privilege of being a citizen of this nation comes great responsibility.

http://celebrityworld.today.com/files/2008/11/sasha-and-malia-obama.jpg

That was the lesson your grandmother tried to teach me when I was your age, reading me the opening lines of the Declaration of Independence and telling me about the men and women who marched for equality because they believed those words put to paper two centuries ago should mean something.

She helped me understand that America is great not because it is perfect but because it can always be made better—and that the unfinished work of perfecting our union falls to each of us. It’s a charge we pass on to our children, coming closer with each new generation to what we know America should be.

I hope both of you will take up that work, righting the wrongs that you see and working to give others the chances you’ve had. Not just because you have an obligation to give something back to this country that has given our family so much—although you do have that obligation. But because you have an obligation to yourself. Because it is only when you hitch your wagon to something larger than yourself that you will realize your true potential.

http://images.watoday.com.au/2009/06/05/557220/article400_obama_daughters-420x0.jpg

These are the things I want for you—to grow up in a world with no limits on your dreams and no achievements beyond your reach, and to grow into compassionate, committed women who will help build that world. And I want every child to have the same chances to learn and dream and grow and thrive that you girls have. That’s why I’ve taken our family on this great adventure.

I am so proud of both of you. I love you more than you can ever know. And I am grateful every day for your patience, poise, grace, and humor as we prepare to start our new life together in the White House.

Love,
Dad
http://assets.nydailynews.com/img/2009/04/30/gal_obama_06.jpg

Catatan Kecil Pada Perayaan “Father’s Day”, My Daddy Is My Hero !

Minggu, Juni 21, 2009

Ketika Negeriku Di Persimpangan Jalan, Ingin Berdemokrasi Seperti AMERIKA, ISRAEL, Atau IRAN ?

Jakarta 21/6/2009 (KATAKAMI) Hanya tinggal menghitung waktu, rakyat Indonesia akan menghadapi PESTA DEMOKRASI lima tahunan berikutnya yaitu Pemilihan Umum Pemilihan Presiden atau yang lebih dikenal dengan istilah PEMILU PILRES.

Dan kalau diperhatikan, GELIAT POLITIK dari masing-masing Capres dan Cawapres sudah sangat dinamis. Bagus-bagus saja dan memang harus demikian yang mereka lakukan. Komunikasikan kepada rakyat, visi dan misi yang akan dilakukan bila kelak terpilih sebagai Duet Kepemimpinan Nasional periode 5 tahun mendatang.

POLRI dan TNI juga diharapkan bisa melaksanakan dan membuktikan NETRALITAS mereka dalam Pemilu Pilpres. Jangan korbankan “masa depan” institusi. Belum tentu, yang mau dipaksakan menang karena kebetulan saat ini masih berkuasa, bisa menang kembali.

Jadi, perhatikan atau cermati betul-betul “arah angin” perpolitikan di negeri ini. Jangan sampai, kehilangan muka dan jabatan. Sudah mati-matian mengamankan atau memaksakan kemenangan seseorang atau sepasang kandidat, ternyata nanti KEOK.

Bahaya itu !

Kalau menurut istilah tokoh dalam film NAGABONAR, “Apa Kata Dunia ?”. Jadi, semua perangkat keamanan dan aparat penegak hukum harus pintar menempatkan diri dan yang terbaik untuk dilakukan adalah BERPIHAKLAH KEPADA RAKYAT INDONESIA secara keseluruhan.

Dari tiga pasangan Capres – Cawapres yang akan maju dalam Pemilu Pilpres, kami sungguh tertarik dan sangat terpukau pada gaya politik pasangan JK – Wiranto dan Megawati – Prabowo. Kedua pasangan ini, saling bahu membahu dan cantik sekali “MENJUAL” diri mereka.

Kehebatan tim sukses dalam “MENJUAL” para jagoan mereka, diuji menjelang Pemilu Pilpres 2009 ini.

Dan kami sungguh terkesan terhadap berbagai iklan politik dari pasangan JK – Wiranto misalnya. Inovatif dan mudah dicerna. Menggelitik dan simpatik. Semoga semua iklan-iklan politik itu tidak jadi mubazir dan hanya memperkaya media massa yang dituju.

Dan kalau mau jujur sebenarnya, jauh lebih baik bila beriklan di media cetak. Agar, rakyat mengingat dan jelas membaca visi dan misi dari masing-masing kandidat. Tidak usah memasang iklan yang terlalu muluk-muluk memuji dan menepuk-nepuk dada tanda kesombongan tentang keberhasilan disana-sini. Sebab, rakyat akan menilainya sendiri.

Misalnya, inilah pemerintahan yang bersih dari korupsi. LANJUTKAN !

Apa yang dilanjutkan ?

Era kepemimpinan 5 tahun terakhir ini menjadi sangat “terjun bebas” ke bawah pasca ditangkapnya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non aktif, Antasari Azhar.

Mengapa ?

Ya, karena patut dapat diduga dibalik kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen itu terdapat begitu banyak kasus-kasus pemerasan. Dan, patut dapat diduga — menurut SUMBER KATAKAMI yang sangat amat dapat dipercaya — sedikitnya ada 5 orang Menteri yang menjadi korban “PEMERASAN” agar kasus korupsi mereka di Departemen masing-masing tidak diproses di KPK.

Apa fakta atau pertimbangan yang mau dibanggakan soal “pemerintahan yang bersih dari korupsi” kalau ternyata patut dapat diduga sejumlah MENTERI nyaris terseret dan terlempar ke dalam penjara. Sehingga, itulah sebabnya mereka — para menteri yang diperas ini — patut dapat diduga mau mau saja menyerahkan uang sogokan agar KPK tidak memproses kasus kourpsi mereka.

Hati-hati kalau berbicara dan membanggakan diri !

Kita semua, terutama seluruh warga dunia — sudah menyaksikan bagaimana indah dan suksesnya proses demokratisasi di AMERIKA SERIKAT. Ada pesona politik yang harusnya dipelajari dan menjadi HIKMAH tersendiri bagi negara-negara lain yang juga menjalankan proses demokratisasi.

Mundurnya Hillary Rodham Clinton untuk memberikan “jalan mulus” bagi Barack Hussein Obama melangkah ke panggung pertarungan yang sangat berat melawan kandidat CAPRES John McCain.

Lalu, cara Barack Hussein Obama merangkul kembali Hillary Rodham Clinton, pasca kemenangannya menyingkirkan Pak Tua McCain. Hillary, perempuan yang sangat cerdas dan memiliki senyum yang menawan ini, akhirnya menjadi ujung tombak yang gesit bagi Kabinet Obama sebagai MENTERI LUAR NEGERI.

Walau Indonesia tidak memiliki hubungan diplomati dengan ISRAEL, tapi mari kami ajak anda melihat proses demokratisasi disana baru-baru ini.

Tidak ada demontrasi yang berdarah-darah atau yang mengorbankan nyawa rakyatnya sendiri. Benjamin Netanyahu, naik sebagai Perdana Menteri secara terhormat dan tidak harus dibayar dengan nyawa rakyat Israel.

Bandingkan dengan proses demokratisasi di IRAN !

IRAN, menjadi cemoohan dan sangat ditertawakan semua negara di muka bumi ini. Bagaimana tidak dicemooh dan ditertawakan !

Bayangkan, dan hitunglah, berapa korban tewas yang dihajar dan mati sia-sia hanya karena rakyat di Iran merasa “HAK SUARA” mereka raib entah kemana.

Itulah juga yang sempat terjadi di INDONESIA pada Pemilu Legislatif 2009.

Bedanya, 20 JUTA rakyat Indonesia yang tidak bisa memilih, tidak turun ke jalan berdemonstrasi dan cakar-cakaran secara sadis. Padahal, jauh lebih besar jumlah pemilih yang patut dapat diduga dirampas dan ditindas hak suaranya di Indonesia ini agar tidak bisa memilih pada Pemilu Legislatif 2009 lalu !

Ternyata sama saja, mau negara manapun — sepanjang untuk mencaplok kemenangan yang menggiurkan — rakyat sendiri bisa dikorbankan.

Kini, saatnya INDONESIA memilih dalam pesta demokrasi yang bermartabat !

Janganlah lagi diulangi praktek-praktek kecurangan yang sangat menjijikkan. Janganlah lagi dikorbankan hak suara rakyat Indonesia. Janganlah lagi dipaksakan aparat-aparat yang membanggakan di republik ini, untuk hanya BERPIHAK pada sebuah golongan saja.

Hormati hak politik rakyat Indonesia.

Dan negeri yang sama-sama kita cintai ini, kini berada di persimpangan jalan. Ingin berdemokrasi seperti AMERIKA SERIKAT, ISRAEL, atau IRAN ?

Buktikanlah, semua kandidat pada Pemilu Pilpres 2009, siap menang dan siap kalah !

Bukan justru, siap menyikut, siap membunuh, siap menghancurkan dan siap mencampakkan nilai-nilai demokrasi ke dasar jurang kematian yang memilukan.

Jangan ada tumbal-tumbal nyawa di negeri yang kita cintai ini. Jangan ada pergerakan-pergerakan yang memang tak bisa dilihat secara “kasat mata”.

Jangan ada pemaksaan kehendak dan penindasan terhadap hak suara rakyat. Jika memang ada yang ingin menang — semua kandidat pasti ingin menang — raihlah kemenangan itu dengan cara-cara yang terhormat dan sesuai dengan ajaran agama !

Untuk Indonesia Yang Lebih Baik, yang dibutuhkan oleh rakyat adalah pemimpin yang berahklak mulia, dan bukan pemimpin yang giginya bertaring dua bagaikan vampir.

Kan asyik, kalau Indonesia bisa punya pemimpin yang terpilih secara demokratis dan terhormat, seperti Obama misalnya.

Pemimpin muda yang sangat cerdas, orator yang ulung, tegas dan berkharisma (ganteng pula).

Dan, yang perlu diingat, Amerika kini punya Presiden yang tidak pernah menawan, menawan, memfitnah atau memenjarakan wartawan / wartawati yang tidak bersalah dengan dalih yang sangat manipulatif.

Beda dengan ….. (seorang pemimpin yang sedang kalang kabut menenangkan dan mengendalikan situasi keamanan nasional di negaranya pasca Pemilihan Umum Presiden). Alamak, barangkali inilah yang namanya karma. Berperilaku buruk pada seorang jurnalis yang tidak bersalah.

Alamak !

(MS)